Re - Downloading Spirit Sumpah Pemuda

09/11/2019

 

Oleh : Yogha Rahadiansyah, SH.

Berbicara mengenai Sumpah Pemuda,  tentu tidak bisa terlepas dari adanya kemunculan atau berdirinya organisasi-organisasi pergerakan yang di gawangi pemuda dengan misi yang sama yaitu membebaskan pribumi dari cengkraman penjajah. Masa pergerakan Nasional mulai menggeliat pada awal tahun 1908 hingga  3 tahun sebelum Indonesia merdeka 1942. Para Sejarawan membaginya dalam tiga kelompok periode yaitu masa pembentukan (1908 – 1920), masa radikal/nonkooperasi (1920 – 1930), masa moderat/kooperasi (1930 – 1942).

Peristiwa sumpah pemuda bisa dikatakan sebagai pengakuan dari pemuda pemudi Indonesia saat itu, yang mengikrarkan tanah air satu, bangsa satu dan bahasa satu. Peristiwa ini juga bisa disebut sebagai angina segar atau harapan besar mengenai masa depan kemerdekaan Indonesia. Sumpah pemuda itu sendiri dibacakan di tanggal 28 Oktober 1928, sebagai hasil dari rumusan kongres pemuda II Indonesia yang sampai saat ini diperingati sebagai hari sumpah pemuda setiap tahunnya.

Jika bicara mengenai peristiwa pengikraran sumpah pemuda, maka kita membicarakan perihal Kongres Pemuda Ke-II di Batavia (Jakarta) pada tanggal 27 – 28 Oktober 1928 yang masuk pada masa radikal/nonkooperasi. Penggagas dari acara Kongres Pemuda II adalah Sugondo Joyopuspito (PPPI) dan wakilnya Joko Marsaid (Jong Java), selain itu juga ada peran Mohammad Yamin sebagai Sekertaris dan perwakilan Jong Sumateranen Bond, seorang pemuda pemberani yang punya mimpi dan gagasan besar perihal persatuan dan pendirian sebuah negara-bangsa otonom yang kita kenal sekarang dengan nama Negara-Bangsa Indonesia. Lantas apa substansi nilai yang bisa kita unduh dari peristiwa Sumpah pemuda?

Hal terpenting yang bisa kita pelajari dari peristiwa Sumpah Pemuda adalah prinsip tentang pentingnya gerakan pemuda dalam menginisiasi sebuah perubahan. Di dalam setiap cuplikan kesejarahan dari bangsa ini, pemuda merupakan kunci pembuka dan penentu tentang kemana setelahnya bangsa ini akan dibawa. Dewasa ini kita seperti kehilangan sosok Yamin, sosok yang sanggup untuk menginisiasi sebuah gerakan perubahan dan restorasi ke arah yang lebih baik. Yamin mengerti, bahwa satu-satunya hal yang bisa mem-bidan-i lahirnya sebuah bangsa dan negara hanya gerakan nir-pragmatisme yang dilakukan oleh golongan muda (yang pada substansinya masih menjaga idealisme).

Maka di-ikrar-kanlah tiga poin penting pada saat itu, yakni : bangsa yang satu, tumpah darah yang satu, dan bahasa yang mempersatukan. Karena Yamin tahu, bahwa selama ratusan tahun gerakan perlawanan kolonial bersifat multi-bangsa (Bangsa Jawa, Bangsa Sunda, Bangsa Melayu, Bangsa Bugis, dll). Tidak ada nya konvergensi pemberontakan yang dilakukan secara bersama-sama.

Maka dari itu yang pertama kali harus diupayakan adalah, peleburan banyak bangsa ini menjadi satu bangsa yang menaungi sub-sub bangsa (merubah status bangsa menjadi sub-bangsa). Dan di dalam naungan bangsa besar yang lahir dari rahim para pemuda ini-lah diucapkan sumpah untuk lahir, menjalani kehidupan, dan mati di dalamnya (menjadi tempat tumpah darah). Dan untuk mempererat persatuan dan komunikasi, maka digunakanlah bahasa persatuan bahasa Indonesia sebagai co-lingua-franca.

Dan ketiga poin itu seharusnya dikelola dengan lebih baik karena negara kita sekarang mendapatkan kekuatan  baru yakni bonus demografi, bonus demograsi (penumpukan secara kuantitatif angka usia produktif) seharusnya disikapi dan diberdayakan secara maksimal oleh para pemangku kebijakan negara. Kalau hal ini dilakukan dengan baik maka yang terjadi selanjutnya adalah penumpukan kesejahteraan dan kemapanan sosial. Dan sebaliknya, apabila kekuatan demografis ini tidak dikelola dengan baik, maka yang timbul adalah penumpukan masalah sosial dikemudian hari. Pun demikian dengan organisasi kepemudaan yang bergerak di berbagai sektor, organisasi kepemudaan haruslah menjadi eskalator yang mengantarkan para pemuda untuk sampai pada puncak potensinya masing-masing (sesuai dengan ideologi dan arah gerakan organisasi).

Para pemuda pada saat ini kurang produktif dalam bergerak dan menelurkan gagasan, bukan karena ketiadaan potensi pada diri mereka. Namun karena potensi di dalam diri mereka itu tidak dikelola dengan maksimal. Apa yang menyebabkan potensi itu keluar? Potensi dan bakat akan menyeruak keluar dari kedalaman diri, ketika masalah terjadi. Dulu, para pendiri Republik (termasuk Yamin) bisa memuncak potensinya karena banyak terpaan masalah yang menghantam dirinya. Mengapa demikian? Karena keadaan yang sulit, akan mengharuskan si pribadi yang terkena dampak masalah untuk berpikir lebih keras dan lebih inovatif. Sedangkan keadaan yang nyaman akan membuat diri menjadi lalai dan terlena, yang dikemudian hari menyebabkan ketidakmaksimalan potensi untuk digembleng keluar.

Maka dari itu negara (lewat institusi pendidikannya) dan organisasi kepemudaan seharusnya menjadi wadah pengkaderan untuk menggembleng generasi muda (para milenial) untuk dapat mencapai puncak potensi dirinya. Institusi pendidikan dan organisasi kepemudaan selayaknya menjadi wadah yang mendistribusikan “masalah buatan” agar setiap potensi anak didik atau anggota organisasi yang sebelumnya tenggelam di dalam kedalaman genetik atau terjebak diantara jaring-jaring DNA dapat dimunculkan ke permukaan sosial. Singkatnya, yang pertama kali harus dilakukan oleh para pemuda saat ini adalah mengunduh ulang spirit sumpah pemuda, mengapa? Karena yang dapat melahirkan kesejahteraan dan kemapanan sosial sebuah bangsa, hanya lah generasi yang sama yang melahirkan bangsa itu sendiri, yakni pemuda!

Memasuki era Revolusi Industri 4.0  yang serba digital. Pemuda juga di hadapkan dengan pilihan yang sangat menantang. Hal ini bisa menjadi peluang untuk terus bergerak maju atau juga bisa menjadi boomerang bagi mereka yang minim skill. Untuk itu, pembinaan atau kaderisasi oleh Negara melalui organisasi kepemudaan sangat penting. Dengan demikian potensi yang ada pada diri pemuda bisa tersalurkan dengan system kolaborasi adn bukan lagi mengedepankan kompetisi.

Dengan meneladani spirit para penggagas Kongres pemuda II serta adanya pembinaan atau kaderisasi dari oraginiasi kepemudaan diharapkan efeknya akan sampai pada pemuda-pemuda Desa. Pemuda Desa harus menjadi barometer kemajuan pemuda Indonesia.Tentunya di harapkan tidak ada lagi ketimpangan antara Pemuda Desa dan kota dalam mengadapi bonus demografi dan revolusi industry 4.0