Pindah Ibu Kota Ke Kalimantan, Presiden Harus Adopsi Kepemimpinan Aswawarman

04/10/2019

Oleh : Hady Nurjaya, S.S.

Teka-teki pemindahan Ibu Kota Indonesia kini telah terjawab secara terang benderang. Pada pidato kenegaraan di gedung DPR/MPR tepatnya satu hari sebelum peringatan kemerdekaan Republik Indonesia ke 74. Dalam salah satu poin pidatonya Presiden Joko Widodo meminta izin kepada Anggota DPR/MPR untuk memindahkan Ibu Kota ke Kalimantan. Akan tetapi masih menjadi misteri mengenai kepastian lokasi yang akan di jadikan Ibu Kota

Kini sudah sangat jelas dan gamblang, Presiden Joko Widodo telah mengumumkan lokasi pemindahan Ibu Kota. Dimana lokasi tersebut jatuh pada sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian Kabupaten Kutai Kartanegara. Isu pemindahan Ibu Kota memang sudah di wacanakan Presiden-Presiden sebelumnya. Akan tetapi memang sangat ramai diperbincangkan ketika wacana tersebut kembali dikemukakan oleh Presiden Joko Widodo, dan bahkan sudah resmi di umumkan.

Penolakan pemindahan Ibu Kota mendapat banyak kritik terutama dari kubu yang selama ini menjadi Oposisi. Bahkan dalam satu kesempatan mantan Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno melemparkan statmen agar pemerintah melakukan Referendum untuk pemindahan Ibu Kota Negara (IKN). Sementara Politisi PDIP Maruarar Sirait menyebutkan jika pemindahan Ibu Kota sudah sangat tepat karena Jakarta sudah kelebihan beban.

Terlepas dari pro kontra yang ada baik di tingkat elite maupun di tingkat akar rumput rakyat jelata. Penulis ingin mengupas dan melihat dari aspek yang berbeda mengenai pemindahan IKN. Bukan dari aspek lingkungan, bukan dari aspek ekonomi, bukan juga dari aspek sosial budaya. Lebih tepatnya penulis ingin meneropong dari aspek sejarah. Hal ini tentu sangat penting, karena dengan sejarah kita bisa melihat segala sesuatu dengan bijak. “History Make Man Wise”

Jika di bandingkan dengan Jakarta, Kutai memiliki sejarah yang panjang dalam catatan historiografi Indonesia. Kutai mampu membawa masyarakat pra sejarah (tidak mengenal tulisan) menjadi mengenal tulisan. Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia II, disebutkan jika Kutai merupakan kerajaan pertama dan tertua di Indonesia. Karajaan ini didirikan oleh Kudungga yang bergelar Maharaja pada abad ke-IV. Ia merupakan bapak dari Aswawarman dan kakek Mulawarman yang kemudian menjadi raja Kutai

Menurut Bella Fresti, Arkeolog lulusan Universitas Udayana. Meskipun Kutai merupakan kerajaan pertama dan tertua di Indonesia akan tetapi bukti pendukungnya sangat kurang. Bahkan dari berita China pun tidak ada satupun yang menyebutkan kerajaan Kutai. Hal ini berbeda dengan banyak kerajaan lainnya di Indonesia. Alasannnya bisa dikarenakan Kutai bukan merupakan jalur perdagangan utama.

Lebih lanjut Bella menyebutkan, tulisan yang terdapat pada Yupa tidak terdapat angka tahun. Yupa ini merupakan satu-satunya peninggalan arkeologin dan menjadi salah satu bukti kuat keberadaan Kerajaan Kutai. Adanya penetapan berdirinya Kutai pada abada ke-IV didasari atas studi komparasi tulisan Pallawa di Yupa dengan Prasasti di India. Dimana tulisan yang terdapat pada Yupa memiliki ciri yang sama dengan tulisan di India pada abad ke-IV

Ketika Kudungga meninggal tampuk kekuasaan di ambil alih oleh anaknya yaitu Aswawarman. Banyak sejarawan yang menyebutkan jika pengaruh Hindu belum kuat, apalagi Kudungga merupakan orang Indonesia asli yang diperkirakan dari Bugis karena memiliki kesamaan nama dengan orang bugis. Kemudian ketika Kutai dipimpin Aswawarman Kerajaan Kutai semakin maju. Bahkan Aswawarman di anggap sebagai Wangsakerta (pendiri keluarga) dan Dewa Matahari karena memiliki gaya kepemimpinan yang cakap dan kuat.

Menurut Agus Fachzuri R.A, Sejarawan lulusan Universitas Udayana. Beliau menyebutkan bahwa pada saat kepemimpinan Aswawarman penyebaran agama Hindu semakin luas dan kuat di wilayah Kalimantan Timur. Rakyatnya juga dikenal sebagai penganut agama Hindu yang taat. Sementara pada sektor ekonomi juga menggeliat maju, Aswawrman memanfaatkan keberadaan sungai Mahakam sebagai jalur perdagangan.

Lebih lanjut Agus Fachzuri menambahkan jika Kerajaan Kutai runtuh ketika raja terakhir yaitu Maharaja Dharma Setia tewas di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-XIII yakni Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Pada Akhirnya Kerajaan kutai kartanegara menjadi kerajaan Islam yang bernama Kesultanan Kutai Kartanegara. Demikian sepenggal sejarah kerajaan tertua di Indonesia berdasarkan banyak referensi yang ada.

Kini Kerajaan Kutai sudah menjadi sejarah, “historia vitai magistra” sejarah adalah guru kehidupan. Semoga peristiwa sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara menjadi pelajaran kehidupan yang bermanfaat untuk kita semua dalam berbangsa dan berbegara. Kegigihan Aswawarman dalam menyebarkan ajaran agama, membawa rakyat ke sejarah dari pra sejarah, memajukan ekonomi kerakyatan, menyatukan daerah kekuasaan, serta memiliki kecakapan dan kekuatan sebagai pemimpin harus kita teladani.

Tentu setelah membaca uraian di atas kita semua berharap Presiden yang nantinya akan berkantor di IKN baru akan memiliki sikap-sikap kepemimpinan sebagaimana yang telah dilakukan Aswawarman dalam memimpin Kutai Kartanegara. Terkait anggaran untuk pembangunan IKN baru bersumber dari hutang atau memotong APBN itu uruan lain. Mari kita kumpulkan energi kita untuk berpikir positif dan saling mendoakaan untuk kemajuan bangsa ini.

Direncanakan IKN baru akan resmi berpindah ke Kaltim pada tahun 2024. Itu artinya Presiden Joko Widodo tidak akan lama berkantor di Kaltim karena alasan masa jabatan akan habis pada tahun 2024. Kecuali ada perubahan Undang-Undang yang mana memperbolehkan mencalonkan Presiden lebih dari dua periode. Hal ini bisa saja terjadi jika DPR RI menyepakati. Apalagi mayoritas Anggota DPR RI adalah dari partai koalisi.

Menarik untuk kita nantikan, apakah pemindahan IKN baru akan dilanjutkan oleh Presiden Joko Widodo seiring dengan banyaknya protes dari berbagai kalangan diluar partai koalisi. Atau justru Presiden akan menganulir kebijakan yang sudah ditetapkan sebagaiman yang sudah sering dilakukan. Sebagai anak bangsa tentu kita mengharapkan keputusan terbaik dari para Umaro. Pada intinya penulis sangat mendukung rencana pemindahan IKN baru ke Kalimantan Timur. Dengan catatan, pemindahan tersebut harus diilhami dengan semangat kepemimpinan Aswawarman sebagaimana yang sudah penulis utarakan di atas.

Hal lain yang harus menjadi pegangan bersama adalah kita harus memperhatikan masa lalu kita dan sekitar kita untuk masa depan yang lebih baik  “wal tandhur nafsun ma qaddamat lighod” perhatikan masa lalu mu untuk masa depa mu. Terima kasih sudah membaca artikel ini sampai selesai, jik artikel ini bermanfaat bagikan artikel ini pada akun sosial media.