Dirgahayu Indramayu ke-492 (Refleksi Hari Jadi Kabupaten Indramayu)

08/10/2019

Oleh: Iin Rohimin

Tanggal 07 Oktober 2019 adalah hari yang sangat Istimewa bagi masyarakat di Kabupaten Indramayu-Jawa Barat, karena pada hari itu diperingati HUT Kabupaten Indramayu yang ke-492. Sejak awal bulan bahkan sejak Bulan September telah digelar berbagai kegiatan untuk menyambut dan memeriahkan Hari Jadi Kota Mangga ini, baik kegiatan sosial, budaya, hiburan, festival, ceremonial hingga pameran yang selalu ditunggu masyarakat setiap tahunnya.

Suasana Kota Indramayu terlihat meriah dan suasana suka citapun tergambar dari tata kota yang diseting sedemikian rupa untuk memberi kesan bahwa kota ini tengah menggelar pesta ulang tahun.

Namun pertanyaan yang muncul kemudian adalah, apakah di usianya yang sudah sedemikian tua ini, yakni 492 tahun, masyarakat Indramayu sudah merasakan kesejahteraan dan kemakmuran sebagaimana digambarkan pendiri Indramayu Raden Bagus Aria Wiralodra yang dikenal dengan prasasti Aria Wiralodra “Nanging Benjing Allah Nyukani Kerahmatan Kang Linuwih, Darma Ayu Mulih Harja Tan Ana Sawiji – wiji, Pertelane Yen Wonten Taksana Nyabrang Kali Cimanuk, Sumur Kejayaan Deres Mili, Dlupak Murub Tanpa Patra, Sadaya Pan Mukti Malih Somahan Lawan Prajurit, Rowang Lawan Priagung, Samya Tentram Atine Sadaya Harta Tumuli Ing Sekehing Negara Pada Raharja” yang artinya “Akan Tetapi Allah Melimpahkan Rahmat-Nya Yang Berlimpah, Darma Ayu Kembali Makmur Tiada Ada Suatu Hambatan, Tandanya Jika Ada Ular Menyebrangi Sungai Cimanuk, Sumur Kejayaan Mengalir Deras, Lampu Menyala Tanpa Minyak, Semua Hidup Makmur, Rakyat Bekerja Sama Dengan Tentara, Rakyat Membantu Penguasa, Semua Hidup Aman Dan Tentram Gemah Ripah Loh Jinawi Seluruh Negara Hidup Makmur”.

Jika pertanyaan itu dilontarkan kepada pemimpin Indramayu yang saat ini tengah berkuasa dan menduduki singgasana kursi Bupati di Pendopo Indramayu, maka pasti jawabannya adalah Indramayu saat ini sudah lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, apalagi segudang prestasi juga telah ditorehkan untuk menghantarkan Indramayu memasuki usianya yang ke 492 tahun.

Namun jika pertanyaan itu dilontarkan kepada masyarakat secara umum, maka sudah pasti jawabannya juga akan berbeda-beda, akan ada yang menjawab bahwa saat ini Indramayu sudah maju, makmur dan sejahtera, serta akan muncul juga jawaban bahwa saat ini Indramayu masih jauh dari kata makmur dan sejahtera.

Bahkan ada juga yang berani menafsirkan bahwa ramalan pendiri Indramayu tentang “Ular Yang Menyeberang Sungai Cimanuk” dan “Sumur Kejayaan Mengalir Deras” adalah hadirnya Pertamina di Indramayu yang ditandai dengan pipa-pipa besar bawah tanah yang melintasi Sungai Cimanuk, sumur-sumur minyak mengalir deras sehingga Indramayu sudah memasuki era kemakmuran dan kesejahteraan sebagaimana digambarkan oleh pendiri Indramayu tersebut.

Semua orang tentu bebas menafsirkan prasasti pendiri Indramayu tersebut berdasarkan akal dan nalar fikiran serta tidak terlepas dari kepentingannya sendiri, termasuk penulis juga memiliki ajuan tafsir dan pemaknaan tersendiri atas prasasti tersebut. Yakni Indramayu mendapat rahmat dan karunia dari Allah SWT yang sangat berlimpah dengan kekayaan Sumber Daya Alam yang sangat luar biasa, baik di darat maupun di laut, Indramayu bisa makmur dan sejahtera jika ada kekuatan besar yang dilambangkan dengan ular, kenapa harus ular, karena ular adalah binatang pemakan tikus, sedangkan tikus adalah lambang dari koruptor yang memakan uang rakyat, maka Indramayu membutuhkan ular yang mampu memangsa para koruptor yang jelas-jelas telah menyengsarakan rakyat dan menggerogoti kekayaan daerah serta menghabisi uang rakyat. Jika Indramayu terbebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) maka tidak mustahil kemakmuran dan kesejahteraan rakyat akan segera terwujud.

“Sumur Kejayaan Mengalir Deras” harus dimaknai sebagai sumber-sumber kehidupan yang harus dialirkan secara deras dan merata kepada rakyat Indramayu, bukan hanya dimiliki dan dikuasai oleh segelintir orang dan sekelompok golongan yang hanya memperkaya diri sendiri dan tidak memperdulikan nasib kaum miskin dan masyarakat secara umum.

“Lampu Menyala Tanpa Minyak” adalah lambang dari kesadaran, pencerahan dan kebebasan yang harus muncul dari seluruh komponen masyarakat Indramayu tanpa ada intimidasi, pembungkaman dan pengekangan dari pihak manapun. Kesejahteraan dan kemakmuran Indramayu tidak akan pernah bisa terwujud jika kesadaran politik rakyat masih rendah, SDM masyarakat yang tidak bisa dicerahkan dan kebebasan berpendapat masih dikekang.

“Rakyat Bekerja Sama Dengan Tentara, Rakyat Membantu Penguasa, Semua Hidup Aman Dan Tentram Gemah Ripah Loh Jinawi Seluruh Negara Hidup Makmur”adalah perlambang dari kekuatan penegak hukum yang dibantu rakyat untuk menegakkan supremasi hukum dan penciptaan keamanan dan kenyamanan di Bumi Wiralodra, bersatu padunya semua kelompok, golongan dan rakyat yang bersama-sama dengan pemimpin untuk membangun daerah tanpa dibedakan dengan warna politik, kepentingan kelompok dan golongan.

Inilah tantangan terbesar untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran di Indramayu, mampukah kita menyatukan diri, menggalang kekuatan dan melepaskan diri dari baju partai politik, kepentingan kelompok dan golongan tertentu demi kepentingan bersama untuk membangun daerah? Jika mampu, pastilah kemajuan, kesejahteraan dan kemakmuran daerah kita ini akan terwujud, namun jika tidak, maka jangan pernah bermimpi untuk bisa mewujudkan semua itu.

Terlepas dari semua tafsir dan jawaban tersebut diatas, patutlah kiranya kita menjadikan momentum Hari Jadi Indramayu ini untuk berintrospeksi diri, apa sebenarnya yang telah kita perbuat dan kita lakukan untuk kemajuan daerah kita ini, jangan-jangan selama ini kita hanya bisa menuntut kepada pemerintah untuk segera menciptakan kemajuan, kesejahteraan dan kemakmuran daerah ini, tanpa pernah kita berbuat apa-apa dan berjuang dengan segenap jiwa raga untuk daerah tercinta kita, atau ada juga yang sudah berbuat dan melakukan banyak hal namun tidak pernah ihlas dan selalu berdasarkan kepentingan pribadi, politik dan golongan semata, atau kita masih sibuk mengejar kekuasaan dan atau mempertahankan kekuasaan agar bisa mengendalikan daerah ini.

Mengeluh, berkata-kata, bertanya, mengumpat dan mengolok-olok kenyataan yang ada saat ini tentu bukanlah tindakan yang tepat untuk mengisi momentum hari jadi ini, saatnya kita berbuat nyata dan memastikan seluruh syarat kemakmuran dan kesejahteraan Indramayu sebagaimana digambarkan Raden Bagus Aria Wiralodra berjalan dengan semestinya.

DIRGAHAYU INDRAMAYU KE-492...!!??