Brai, Kesenian Khas Indramayu Yang Semakin Layu

12/10/2019

Oleh : Hady Nurjaya, S.S

Mungkin sebagain dari anda yang membaca tulisan ini masih asing dengan kesenian Brai. Bahkan penulis juga baru mengetahui jika di Indramayu terdapat kesenian Brai tersebut pada saat acara peringatan hari Museum dan ulang tahun Museum Bandar Cimanuk (MBC) yang ke 5 pada hari Jumat (11/10/19)

Berdasarkan sumber terbatas yang penulis dapatkan, konon Kesenian Brai sudah ada sejak abad ke 15. Dahulu hampir setiap desa di Indramayu memiliki grup yang memainkan kesenian Brai. Kesenian ini biasa dimainkan pada upacara-upacara duka dan pesta hajat.

Biasanya mulai dimainkan dari jam 12 malam hingga menjelang subuh. Uniknya Brai dimainkan tanpa putus-putus alias nyambung terus. Menjadi pantangan bagi para pemainnya atau grup Brai tersebut untuk menghentikan alunan musik atau syair yang dilantunkan.

Kini, setelah maraknya kesenian semi modern seperti Singa Dangdut, Sandiwara, Organ tunggal, dan kesenian musik modern lainnya yang berkembang dengan pesat di Indramayu. Brai mulai dilupakan dan tersisihkan, utamanya di kalangan anak muda atau generasi muda 

Pada acara peringatan hari Museum yang di adakan Museum Bandar Cimanuk (MBC). Mereka yang tersisihkan (baca: Brai) akhirnya menemukan ruhnya untuk naik pentas sekaligus mengkonfirmasi keberadaan atau eksistensinya. Umur boleh tua tapi semangat dan jiwa masih muda.

Sekarang ini, personel grup Brai yang hanya tinggal satu grup di Indramayu tersebut tidak ada anak muda satu pun. Semuanya di gawangi oleh kaum renta baik laki-laki maupun perempuan dengan alat yang juga sudah renta. Grup tersebut berasal dari Desa Pangkalan Kecamatan Losarang.

Jika dilihat-lihat kesenian ini sangat monoton. Namun, isinya berupa tahlil aatau al-barjanji yang dilantunkan seperti Nada kidung orang Hindu yang sering dilantunkan dari area Pura yang mana sering penulis dengar dari kos-kosan ketika masih kuliah di Bali dulu.

Ada juga kepulan asap kemennyan dan sesajen yang terdiri dari buah-buahan dan kue tradisional. Jika ditelisik secara dalam alunan lagu ata bait syair yang di lantunkan berisi Pujian terhadap sang pencipta. Mereka akan terus memuji Allah sang pencipta dan Muhammad sebagai rasul hingga menjelang subuh. 

Jika anak muda enggan meneruskan atau melestarikan kesenian Brai, maka 5 atau 10 tahun lagi, seiring dengan personel dan alat yang semakin layu maka kesenian Brai hanya akan tinggal cerita dan kenangan saja. Itupun jika generasi selanjutnya ada yang mau megenang atau menceritakan kepada anak cucunya.

Semoga Museum Bandar Cimanuk mau mengoleksi dan memajang dalam pajangan ruang Museum yang ada mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan Brai di kemudian hari agar bisa menjadi kisah sejarah di masa yang akan datang. Itupun, jika Brai benar-benar mati dari kelayuan selama ini.