BANGKITNYA “WISANGGENI” DALAM SPIRIT PEMUDA

04/10/2019

Oleh : Yoga Rahadiyansah, SH.

Dewasa ini Indonesia dihadapkan berbagai persoalan yang sepertinya tak ada habisnya. Mulai dari krisis kepemimpinan, ketidakadilan sosial, ketidakadilan ekonomi, konflik isu berbau SARA, dan pendidikan politik yang cenderung dekonstruktif. Sementara itu, rasanya baru kemarin kita memeriahkan 68 tahun hari kemerdekaan NKRI. Artinya setengah abad lebih kita menjadi negara yang merdeka dan berdaulat atas kekayaan alam dan sumber daya manusia di dalamnya. 

Indonesia saat ini masih bergulat dengan kasus korupsi, krisis, harga BBM dan sembako yang terus naik,  kemiskinan, pengangguran, dan sederet masalah lainnya.  Ini harus ditambah dengan problematika pemuda mengenai menurunnya idealisme, pergaulan bebas, dan narkoba. Namun, di balik permasalahan yang dihadapi para pemuda, mereka punya potensi luar biasa.

Dalam bukunya, Harwantiyoko dan Neltje F. Katuuk (MKDU Ilmiu Sosial Dasar, Jakarta, 1997) menyatakan, pemuda Indonesia punya banyak potensi yang bisa dikembangkan. Potensi ini jika tidak dikembangkan ibarat pisau yang tidak pernah diasah dan dipergunakan, akhirnya tumpul tanpa manfaat. Harwantiyoko dan Neltje menjelaskan 10 potensi pemuda yang jika dikembangkan dan dioptimalkan dengan baik, akan melahirkan sosok luar biasa.

Pertama, Idealisme dan daya kritis. Hanya pemuda yang memiliki idealisme dan daya kritis yang dapat menggerakkan perubahan. Kedua, dinamika dan kreativitas yang berupa kemampuan dan kesediaan melakukan serta mengadakan perubahan. Ketiga, keberanian mengambil resiko dalam upaya pembangunan. Keempat, optimis dan kegairahan semangat sebagai daya pendorong untuk terus mencoba dan lebih maju. Kelima, sikap kemandirian dan disiplin agar menyadari batas-batas yang wajar. Keenam, pemuda yang terdidik dengan kesempatan luas untuk mengenyam pendidikan. Ketujuh, keanekaragaman dalam persatuan dan kesatuan yang didasari semangat Sumpah Pemuda dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Kedelapan, Patriotisme dan Nasionalisme sebagai rakyat Indonesia. Kesembilan, ksatria sebagai pengabdi bangsa Indonesia. Kesepuluh, kemampuan penguasaan ilmu dan teknologi.

Saya teringat sosok inspiratif pewayangan, Bambang Wisanggeni. Wisanggeni sebenarnya tidak ada dalam kitab Mahabrata karena dia tokoh ciptaan pujangga Jawa. Wisanggeni adalah anak Arjuna dari istrinya yaitu Batari Dresanala, seorang bidadari kahyangan.

Wisanggeni merupakan sosok pemuda pemberani. Berani menegakkan keadilan meski harus berhadapan dengan keluarganya sendiri dan berani berkorban meski nyawa menjadi taruhannya. Kesaktiannya melebihi putra-putri Pandawa lainnya. Wisanggeni tidak tinggal di bumi tapi di Khayangan Sanghyang Wenang. Dia mati sebagai tumbal dalam peperangan Baratayudha karena menurut ramalan Sanghyang Wenang, Pandawa akan kalah apabila Wisanggeni turut berperang di pihak Pandawa.

Sosok pemuda ini menarik dan dapat menjadi inspirasi bagi para kaum pemuda saat ini. Wisanggeni berani menunjukkan kebenaran tentang dirinya di hadapan Arjuna sebagai ayahnya. Dia berani menghadapi ketidakadilan Brahma (kakeknya) terhadap dirinya dan ayahnya Arjuna. Bahkan, dengan jiwa satria, dia berani mati sebagai tumbal  demi kepetingan yang lebih besar (kemenangan Pandawa pada peperangan Baratayudha).

INSPIRASI SOSOK WISANGGENI BAGI PEMUDA

Kisah Wisanggeni menyadarkan saya bahwa pada hakikatnya karakter Wisanggeni juga ada dalam diri sosok pemuda Indonesia. Kita tidak bisa memungkiri bahwa keberanian, “kesaktian”, dan kekuatan luar biasa yang dimiliki Wisanggeni, ada pada sosok pemuda. Lihatlah, bagaimana keberanian Wisanggeni dalam menghadapi segala macam jurus yang dikeluarkan Arjuna untuk membuktikan dirinya anak Arjuna. Lihat pula bagaimana keberaniannya bertempur dalam peperangan Baratayudha dan rela menjadi tumbal.

Ada beberapa poin yang dapat menjadi inspirasi bagi pemuda dalam kisah Wisanggeni ini. Pertama, Wisanggeni merupakan percampuran antara titisan dewa dan manusia. Ini menggambarkan, Wisanggeni punya kesaktian dan kekuatan para dewa, tapi dia juga punya sifat-sifat kemanusiaan. Itu tergambar pada sosoknya yang pemberani dan memiliki jiwa sosial (rela berkorban), bisa dekat dengan siapa saja tanpa ada batas. Kedua, makna nama Wisanggeni ialah Racun Api yang menggambarkan sosok pemberani,  tangguh, tak terkalahkan, dan ”berbahaya”. Ketiga, sosok pemberani. Dia berani menerima tantangan, berani menghadapi Brahma yang tidak adil terhadap dirinya dan ayahnya. Dia berani membela kebenaran dan berani mati. Keempat,  sosok yang tidak egois. Dia peduli, rela berkorban untuk kepentingan lain yang lebih besar meski taruhannya adalah nyawa.

Sosok edan seperti Wisanggeni inilah yang dirasa dibutuhkan menjadi pemimpin-pemimpin di Indonesia. Indonesia butuh pemimpin yang tak perlu lagi pencitraan. Pemimpin yang bekerja bekerja atas nama kebenaran. Tak takut apapun dan tak segan pada siapapun yang salah.

Pernyataan Haryantiyoko dan Nelje yang ditulis dalam bukunya menguatkan fakta bahwa pemuda memiliki sifat dan karakter yang ada dalam Wisanggeni. Pertama, kita mengenal pemuda sebagai sosok yang tangguh, idealis, dan kritis dengan gagasan-gagasannya. Ini menggambarkan pemuda yang memiliki sisi ”kedewataan” (sosok yang idealisme) tapi di sisi lain, sifat kemanusiaannya juga tinggi.

Kedua, sosok pemberani. Semua mengakui bahwa pemuda adalah sosok pemberani menghadapi segala medan. Berani memperjuangkan kebenaran dan keadilan.  Ketiga, pemuda merupakan sosok yang peduli terhadap kepentingan sesama tanpa mengharapkan imbalan apapun dari perjuangan yang dilakukannya. Persis seperti Wisanggeni yang rela menjadi tumbal demi kemenangan Pandawa pada peperangan Baratayudha.

Maka tidak heran apabila Ir Soekarno berkata ”Beri aku seratus  pemuda niscaya akan aku goncangkan dunia.” Ucapan ini nyata adanya, bahwa pemuda adalah tokoh luar biasa dalam membawa perubahan. Sejarah membuktikan tentang dahsyatnya pemuda saat menggulingkan Soeharto yang berkuasa 32 tahun, dahsyatnya organisasi pemuda Budi Utomo saat berjuang di Surabaya, dan tentu saja dahsyatnya kekuatan Sumpah Pemuda dalam menggerakkan kemerdekaan Indonesia yang terjajah 3,5 abad.

Sumpah pemuda adalah momen tak terlupakan. Pada tanggal 28 oktober 1928, para pemuda Indonesia bertekad dan berjanji mewujudkan mimpi kolektif mereka, yaitu berbangsa satu bangsa Indonesia, bertumpah darah satu tanah air Indonesia, dan berbahasa satu bahasa Indonesia. Tiga mimpi ini memiliki dua tujuan utama yakni memajukan kesejahteraan umum dan mencedaskan kehidupan bangsa.

Mengawal perjalanan bangsa dengan membangun optimisme kolektif ini, mestinya menjadi ruh perjuangan gerakan pemuda, sekaligus  mengantisipasi gejala pesimisme massal. Pada ruang kosong inilah, pemuda dituntut berjiwa seperti Wisanggeni, pemberani, kritis dan sensitif dengan kondisi bangsa, rela berkorban demi membangun dan memperjuangkan bangsa. Bangsa ini menanti bangkitnya para pemuda untuk membangun mimpi Indoensia masa depan. Membangun optimisme kolektif  bahwa suatu saat, pemuda mampu mewujudkan mimpi Indonesia dan menjadi terhormat di mata dunia. Bangsa ini perlu bermimpi suatu saat akan memimpin dunia.

Melalui tulisan ini mari kita optimalkan potensi diri pemuda, membangkitkan sosok Wisanggeni dalam diri pemuda sebagai amunisi membangun bangsa. Memperingati hari Sumpah Pemuda ini, kita tekadkan diri untuk

  1. Menjunjung rasa persudaraan, satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air. Sehingga dimanapun berada, kita bertekad tetap memperjuangkan bangsa Indonesia, meski nyawa taruhannya.
  2. Memiliki rasa tanggung jawab membawa bangsa Indonsia menjadi bangsa yang makmur sejahtera.
  3. Berjuang menuju Indonesia yang lebih baik.
  4. Kami Pemuda Indonesia, bertekad untuk mengabdi pada Negeri Tercinta, Indonesia!!!